Makna dan Keagungan Shalat – Kajian Kitab Bulughul Maram

Makna dan Keagungan Shalat – Kajian Kitab Bulughul Maram

Ringkasan pengajian ahad pagi, 9 November 2025, Ustadz Feri Nuryadi

Pada kesempatan pengajian kali ini, Ustadz Feri Nuryadi membahas kitab Bulughul Maram yang telah memasuki bab tentang shalat. Sebagai pengantar, beliau menjelaskan bahwa secara bahasa, shalat berarti doa, yakni bentuk permohonan dan komunikasi seorang hamba kepada Tuhannya. Sementara secara istilah, shalat merupakan rangkaian ucapan dan gerakan tertentu yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan syarat dan rukun yang telah ditetapkan. Shalat menjadi ibadah yang sangat penting karena merupakan tiang agama, dan menjadi pembeda antara seorang Muslim dengan yang bukan.

Dalam penjelasannya, Ustadz Feri juga menyinggung tentang makmum yang masbuk, yaitu makmum yang datang terlambat dan hanya sempat mengikuti sebagian shalat berjamaah. Beliau menceritakan bahwa pada zaman Rasulullah, para sahabat memiliki semangat luar biasa dalam menjaga shalat berjamaah. Mereka bahkan berlari menuju masjid ketika mendengar iqamah dikumandangkan, agar tidak tertinggal takbir pertama. Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian dan kecintaan mereka terhadap shalat berjamaah serta keinginan kuat untuk mendapatkan keutamaan pahala yang penuh.

Selanjutnya, beliau juga sedikit membahas hal-hal yang membatalkan maupun yang dimakruhkan dalam shalat. Salah satu hal yang membatalkan adalah keluar hadas. Sedangkan yang dimakruhkan antara lain menahan buang air kecil, buang air besar, atau buang angin ketika hendak shalat. Banyak ulama memakruhkan hal tersebut karena dapat mengganggu kekhusyukan dan konsentrasi seseorang dalam beribadah. Ustadz menegaskan bahwa shalat yang baik adalah shalat yang dilakukan dengan hati tenang dan fokus kepada Allah.

Beliau kemudian mengingatkan jamaah tentang asal-usul perintah shalat. Perintah ini disampaikan kepada Rasulullah secara langsung oleh Allah pada peristiwa Isra’ Mi’raj. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui perantara malaikat Jibril, ibadah shalat adalah perintah yang Allah sampaikan langsung tanpa perantara. Hal ini menunjukkan keistimewaan dan keagungan shalat dibanding ibadah lainnya.

Awalnya, Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk melaksanakan shalat sebanyak lima puluh kali dalam sehari semalam. Namun, dalam prosesnya, jumlah tersebut akhirnya dikurangi menjadi lima waktu saja. Meskipun demikian, pahala yang diberikan tetap setara dengan lima puluh kali shalat. Ini menjadi bukti betapa besar kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad , dan betapa Allah mengetahui kemampuan hamba-hamba-Nya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Feri juga menjelaskan bahwa shalat merupakan ibadah badan, karena dilakukan dengan gerakan dan aktivitas fisik. Beliau menambahkan bahwa dalam Islam, ibadah dapat dibagi menjadi tiga bentuk utama. Pertama, ibadah badan seperti shalat. Kedua, ibadah lisan seperti membaca Al-Qur’an dan juga ibadah hati seperti ikhlas dan ridha terhadap ketentuan Allah. Ketiga bentuk ibadah ini harus saling melengkapi agar seorang Muslim dapat mencapai keseimbangan antara jasmani, ucapan, dan hati dalam beribadah.

Sebagai penutup, Ustadz Feri mengingatkan bahwa shalat adalah tolok ukur keimanan seseorang. Oleh karena itu, beliau berpesan agar umat Islam senantiasa menjaga shalat tepat waktu, melaksanakannya dengan penuh kekhusyukan, serta memperbanyak doa di dalamnya. Sebab pada hakikatnya, shalat adalah doa dan komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Allah.

Kajian diakhiri dengan ajakan kepada jamaah untuk terus memperdalam ilmu tentang shalat, memahami syarat dan rukunnya, serta berupaya memperbaiki kualitas ibadah sehari-hari. Pada pertemuan berikutnya, pembahasan akan dilanjutkan dengan penjelasan lebih rinci masuk ke dalam kajian hadits bab shalat sebagaimana tercantum dalam kitab Bulughul Maram.

Bagikan artikel ini: