Kajian Ahad Pagi : Kitab Riyadus Sholihin
Alhamdulillah, pada Ahad pagi ini jamaah Masjid Al-Ikhlas mendapat kesempatan berharga dengan hadirnya Ustadz Sirojudin Munir yang untuk pertama kalinya mengisi kajian di masjid Al Ikhlas
Sebagai pembuka, Ustadz memperkenalkan diri secara singkat, menyampaikan latar belakang pendidikan dan pengalaman beliau dalam menuntut ilmu syar’i. Beliau juga bercerita tentang perjalanan menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan, sampai dengan pendidikan beliau selama 6 tahunan di Turkiye, serta para guru yang pernah membimbingnya. Hal ini tentu menjadi pengantar yang baik agar jamaah lebih mengenal dan dekat dengan beliau.
Ustadz kemudian menekankan pentingnya ilmu dalam kehidupan seorang muslim. Beliau menyampaikan bahwa ilmu adalah bagian dari agama. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam memilih sumber ilmu dan guru, sebagaimana ungkapan ulama:
“Ilmu itu agama, maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambil agamamu.”
Dalam kajian ini juga disampaikan perenungan tentang manusia yang terbagi menjadi tiga kelompok: ada yang mengumpulkan ranting, ada yang mengumpulkan air, dan ada yang mengumpulkan daun. Seandainya ranting-ranting itu dijadikan pena, air dijadikan tinta, dan daun dijadikan kertas, maka sebanyak apa pun yang terkumpul di dunia ini tetap tidak akan mampu untuk menuliskan seluruh nikmat Allah.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)
Hal ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di sekitar kita adalah nikmat Allah yang tak ternilai. Sayangnya, karena terbiasa melihat dan merasakannya setiap hari, kita sering lalai untuk menyadari betapa agungnya karunia tersebut. Padahal setiap detik hidup kita dilingkupi oleh nikmat-Nya, mulai dari kesehatan, udara, waktu, hingga kesempatan untuk beribadah.
Sebagai pengantar kajian yang akan datang, Ustadz Sirojudin Munir menyampaikan bahwa insyaAllah ke depannya beliau akan membahas kitab Riyadus Sholihin secara serial. Kitab ini merupakan karya ulama besar Imam Nawawi. Beliau adalah ulama yang sangat dikenal dengan kezuhudan, kesungguhan dalam ibadah, dan kedalaman ilmunya. Nama lengkapnya adalah Yahya bin Syaraf an-Nawawi, seorang ulama ahli fiqih dan hadits dalam mazhab Syafi’i. Meskipun hidup singkat, hanya sekitar 45 tahun, beliau meninggalkan banyak karya yang menjadi rujukan hingga kini.
Kitab Riyadus Sholihin sendiri adalah salah satu karya beliau yang paling populer, berisi kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi SAW yang disusun berdasarkan tema akhlak, adab, ibadah, dan motivasi amal shalih. Kitab ini menjadi pegangan penting bagi kaum muslimin karena sangat praktis dan langsung menyentuh kehidupan sehari-hari, sekaligus memudahkan kita dalam memahami tuntunan Islam yang menyeluruh.
Sebagai pengantar, ustadz sedikit menyinggung hadits pertama dalam Riyadus Sholihin, yaitu sabda Nabi SAW: “Innamal a‘mālu bin-niyyāt, wa innamā likulli mri‘in mā nawā…” (Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan). Hadits ini mengajarkan kepada kita betapa pentingnya niat dalam setiap amal. Niat menjadi pembeda apakah suatu amal bernilai ibadah atau sekadar rutinitas biasa.
Ustadz juga mengingatkan bahwa syarat diterimanya amal di sisi Allah ada dua, yaitu iman dan ikhlas. Iman adalah syarat mutlak—tanpa iman, sebaik apa pun amal yang dilakukan maka tidak akan bernilai di hadapan Allah. Sedangkan ikhlas adalah syarat agar amal yang dilakukan benar-benar murni karena Allah, bukan karena riya’ atau mengharap pujian manusia. Dengan dua syarat inilah amal seseorang akan diterima dan diberi balasan oleh Allah Ta’ala.
Kajian perdana ini lebih banyak sebagai pengantar. InsyaAllah, pada pertemuan-pertemuan berikutnya akan mulai dibahas isi dari Riyadus Sholihin secara berurutan, agar jamaah dapat memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
.
